<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sapala's zone</title>
	<atom:link href="http://sapala.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sapala.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jul 2008 04:24:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sapala.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sapala's zone</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sapala.wordpress.com/osd.xml" title="Sapala&#039;s zone" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sapala.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pendakian Gunung 8.000 Meter Tanpa Tabung Oksigen</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/pendakian-gunung-8000-meter-tanpa-tabung-oksigen/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/pendakian-gunung-8000-meter-tanpa-tabung-oksigen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 04:24:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Reinhold Messner adalah Fenomena Doug Scott/National Geographic Memuncaki Everest tanpa doping oksigen adalah prestasi lain. Hanya ada segelintir orang yang sanggup melakoni petualangan berisiko tinggi itu. Tipisnya kadar oksigen menyebabkan para pendaki terpaksa mengandalkan bantuan tabung oksigen untuk menggapai puncak. Mereka khawatir dengan gangguan kesehatan yang muncul bila nekat tak memakai tambahan oksigen. Salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=15&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:medium;">Reinhold Messner adalah Fenomena</p>
<p><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi1.jpg" border="0" alt="" width="370" height="221" /><br />
</span></strong><span style="font-family:Arial;font-size:xx-small;"> Doug Scott/National Geographic</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;">Memuncaki Everest tanpa doping oksigen                adalah prestasi lain. Hanya ada segelintir orang yang sanggup                melakoni petualangan berisiko tinggi itu. Tipisnya kadar oksigen                menyebabkan para pendaki terpaksa mengandalkan bantuan tabung                oksigen untuk menggapai puncak. Mereka khawatir dengan gangguan                kesehatan yang muncul bila nekat tak memakai tambahan oksigen.</p>
<p>Salah satu kunci kesuksesan Sir Edmund Hillary meraih titik                tertinggi dunia: 8.848 meter (29,035 feet) bersama Tenzing Norgay                adalah bantuan tabung oksigen. Sejak awal, tim ekspedisi ini tak                mengharamkan pemakaian bantuan doping itu. Sebab pada ekspedisi                yang digelar pada 13 April – 3 Juni 1953 memang bertujuan untuk                mengantar orang pertama yang memuncaki Everest. Sebelumnya,                beragam ekspedisi sudah digelar namun selalu berujung dengan                kegagalan.<br />
Pendakian gunung tinggi dunia – terutama di atas 8.000 meter –                tanpa bantuan tabung oksigen sempat menjadi kontroversi. Usaha                pertama mencapai puncak Everest tanpa doping tabung oksigen sudah                dimulai George Mallory. Pendaki Inggris ini menolak memakai tabung                oksigen saat melakoni ekpedisi kedua tim Inggris pada April – Juni                1922. Ekspedisi ini gagal mengantarkan para pendaki meraih puncak.                Tanpa oksigen, Mallory sanggup mencapai ketinggian 27.000 feet                sedang rekannya yang memakai tabung oksigen hanya meraih 300 feet                di atas Mallory.<br />
Mallory merasa aneh saat mendaki Everest dengan bantuan tabung                oksigen – meski dengan doping itu ia mendapat sejumlah keuntungan.                Kadar oksigen yang tipis dapat mengganggu kinerja otak sampai                menimbulkan halusinasi. Sayang, Mallory tak berumur panjang. Pada                ekspedisi tim Inggris ke Everest yang ketiga kalinya, Mallory                ditemukan tewas bersama Andrew Irvine. Jenazah kedua pendaki itu                ditemukan di dekat puncak pada 8 Juni 1924.</p>
<p><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi2.jpg" border="0" alt="" width="200" height="138" align="left" />Pendakian Kilat<br />
Era tujuh puluhan, wacana pendakian gunung tinggi tanpa oksigen                kembali mengemuka. Beberapa pendaki menyatakan pendakian dapat                dibilang sukses bila titik tertinggi itu diraih tanpa bantuan                oksigen. Gaya pendakian tanpa oksigen dilontarkan dua pendaki                anyar – pada saat itu: Reinhold Messner dan Peter Habeler.<br />
Mereka begitu bersemangat membuktikan, jiwa olahraga dunia                pendakian akan lebih terasa bila dijalani tanpa harus mengandalkan                tabung oksigen yang digendong di punggung.<br />
Tahun 1974, Messner dan Habeler memanjat dinding utara (North                Face) Eiger, Prancis hanya dalam waktu 10 jam. Keduanya                berpendapat, kecepatan pendakian berbanding lurus dengan                keselamatan diri. Pendakian kilat itu dapat mengurangi ancaman                longsor salju (avalanche) dan kemungkinan ditimpa cuaca buruk.                Walhasil, perlengkapan pendakian dihitung dengan amat cermat,                sebagai usaha mengurangi beban.<br />
Sukses pemanjatan Eiger makin menambah semangat mereka. Messner                dan Habeler terus memacu program latihan yang bertujuan akhir:                mengantarkan dua manusia tanpa oksigen dalam pendakian gunung                8.000 meter pada 1975. Latihan yang begitu berat ternyata tak                sia-sia.<br />
Pasangan pendaki legendaris itu memilih Gasherbum I/Hidden Peak                (8.068 meter/ 26.470 feet) di Pakistan. Dalam rangkaian 14 gunung                tinggi dunia, gunung ini berada di urutan ke sebelas – berdasarkan                tinggi puncaknya. Pemuncak pertama adalah Andrew Kaufman dan P.                Schoening pada 1958.<br />
Dengan hanya membawa 12 porter untuk mencapai kemah induk (base                camp), Messner dan Habeler sukses menggapai puncak tanpa bantuan                oksigen. Hebatnya lagi, mereka pun sukses membuka jalur baru: rute                barat laut (northwest route). Dan ingat, rute baru ini bukan cuma                untuk jalan naik tetapi juga sekaligus jalur turun.</p>
<p><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi3.jpg" border="0" alt="" width="134" height="200" align="right" />Sejarah Baru<br />
Usai pendakian itu, duet handal itu seperti tak sabar menyiapkan                petualangan berikutnya. Tekad pun sudah terkepal di tangan: puncak                Everest harus dapat ditembus tanpa bantuan oksigen.<br />
Sejarah itu terjadi pada Mei 1978. Messner dan Habeler mendaki                puncak lewat South Col. Mereka mendaki tanpa membawa tenda dan                tentu saja, tanpa tabung oksigen. Tantangan alam yang amat berat,                mampu dilewati. Selain latihan yang serius, keduanya punya ikatan                yang kuat sebagai tim pendaki. Tanpa berbicara, mereka terus                mendaki menuju puncak. Kadang-kadang, mereka saling berpandangan,                melihat badan dan pikiran masing-masing.<br />
Sebelumnya, Habeler sempat khawatir dengan serangan oksigen tipis                di ketinggian yang dapat berakibat kerusakan otak dan kehilangan                memori. Namun, dia dan Messner akhirnya mampu mencapai puncak.                Habeler mengaku sangat letih secara fisik, namun hasrat memuncak                yang begitu tinggi mampu mengalahkan segala. Karena takut terkena                kerusakan otak, Habeler turun ke South Col hanya dalam waktu satu                jam saja. Ia meluncur dengan kapak esnya.<br />
Kisah petualangan pria kelahiran desa Villnos, Italia Selatan 17                September 1944 tak berhenti sampai di situ. Pada tahun yang sama,                Messner meraih puncak Nanga Parbat (8.125 meter/26.660 feet) tanpa                bekal tabung oksigen. Bagi para pelaku pendakian gunung, prestasi                itu seolah tenggelam. Mereka justru penasaran dengan pendakian                solo Messner dalam usaha mencapai puncak gunung yang ada di                wilayah Pakistan itu. Ia mencapai puncak nomor sembilan hanya                dalam waktu 12 hari.<br />
Merasa dicuekin, dua tahun kemudian Messner kembali menciptakan                sensasi. Pada 18-21 Agustus 1980, Messner sukses membuat rekor di                Everest: mendaki solo dan tanpa tabung oksigen. Ia mulai mendaki                sendiri dari advanced base camp di sisi utara.<br />
Pada hari ketiga – dengan diliputi keletihan, Messner mampu                berdiri di titik 8.848 meter itu. Meraih puncak seorang diri,                Messner pun terduduk dan menangis. Hanya itu yang dapat                dilakukannya. Saat tiba di kemah, Messner berucap terbata-bata,                ”Saya tak dapat mengulanginya lagi. Saya telah mencapai batas                kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia.”<br />
Rekor Messner tak berhenti sampai di situ. Pada 17 Oktober 1986,                bersama Hans Kamerlander, Messner menerima suguhan secangkir kopi                panas di kemah induk Lhotse (8.516 meter). Inilah sambutan yang                diberikan kawan-kawan pendaki seusai menjejak puncak nomor empat                dunia itu. Sekaligus menobatkan Messner sebagai orang pertama di                muka bumi yang sanggup berdiri di 14 puncak dunia.<br />
Usaha mencapai 14 puncak itu dilakoni Messner selama 16 tahun                (1970 – 1986). Ketika menyelesaikan Lhotse usianya sudah mencapai                42 tahun. Dan ia terus memproduksi rekor-rekor baru dalam                petualangan. Pada perayaan 50 tahun Everest diraih Hillary dan                Norgay, Messner sempat hadir bersama sang istri. Reinhold Messner                memang fenomena dalam kisah petualangan dunia.<br />
<strong>(berbagai sumber/bay)</strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=15&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/pendakian-gunung-8000-meter-tanpa-tabung-oksigen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0414/hobi3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pendakian Gunung dan Panjat Tebing di Indonesia</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/sejarah-pendakian-gunung-dan-panjat-tebing-di-indonesia/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/sejarah-pendakian-gunung-dan-panjat-tebing-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 04:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[1492 Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=13&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="text"><strong>1492 </strong><br />
Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Tak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, sampai beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Jadi mereka memanjat karena dipaksa oleh mata pencaharian, kurang lebih mirip para pengunduh sarang burung walet gua di tebing-tebing Kalimantan Timur atau Karang Bolong, Jawa Tengah.</span></p>
<p><strong>1623</strong><br />
Yan Carstensz adalah orang Eropa pertama yang melihat “….. pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju !” di pedalaman Irian. Salju itu sangat dekat ke khatulistiwa. Laporannya tak dipercaya di Eropa, padahal belum lama berselang diberitakan ada juga salju di Pegunungan Andes dekat khatulistiwa.</p>
<p><strong>1624 </strong><br />
Masih berkaitan dengan pekerjaan juga, pastor-pastor Jesuit merupakan orang-orang Eropa pertama yang melintasi Pegunungan Himalaya, tepatnya Mana Pass (pass = pelana/punggungan yang terentang antara dua puncak), dan Garhwal di India ke kawasan Tibet.</p>
<p><strong>1760 </strong><br />
Profesor de Saussure agaknya begitu jatuh cinta pada Mont Blanc di perbatasan Perancis-Italia, sehingga dia menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menemukan lintasan ke puncaknya, untuk penyelidikan ilmiah yang diimpikannya. Sayang tak ada yang tertarik, terutama karena keder terhadap naga-naga yang konon mbaurekso di puncak gunung tertinggi di Eropa Barat itu.</p>
<p><strong>1786</strong><br />
Setelah beberapa percobaan gagal, Puncak Mont Blanc (4807 m) digapai manusia. Mereka adalah Dr.Michel-Gabriel Paccard dan seorang pandu gunung, Jacques Balmat. Puncak tertinggi di Alpen yang didaki sebelumnya adalah Lysjoch (4153 m), tahun 1778.</p>
<p><strong>1830 </strong><br />
Alexander Gardiner melintasi Pelana Karakoram dari Sinkiang di Cina ke wilayah Kashmir di India.</p>
<p><strong>1852 </strong><br />
Ahli-ahli ukur tanah di India berhasil menentukan ketinggian Puncak XV, 8840 meter. Berarti puncak tertinggi di dunia, mengalahkan Puncak VIII (Kangchenjunga, 8598 m) yang sebelumnya dianggap paling tinggi. Puncak XV itu lalu diberi nama Everest (padahal aslinya orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma kata orang Tibet). Belakangan ketinggiannya dikoreksi, 8888 meter, lalu dikoreksi lagi menjadi 8848 meter, sampai sekarang.</p>
<p><strong>1854 </strong><br />
Batu pertama Zaman Keemasan dunia pendakian di Alpen, diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke Puncak Wetterhom (3708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.</p>
<p><strong>1857 </strong><br />
Alpine Club yang pertama berdiri, di Inggris.</p>
<p><strong>1858</strong><br />
Ketinggian K2 (singkatan Karakoram nomer 2) terukur, 8610 meter, menggeser lagi kedudukan Kangchenjunga menjadi juara tiga.</p>
<p><strong>1865</strong><br />
Dinding selatan Mont Blanc dipanjat untuk pertama kali lewat lintasan Old Brenva, menandai lahirnya panjat es (ice climbing). Sementara itu di Alpen bagian tengah, Edward Whymper dan enam rekannya berhasil menggapai Puncak Matterhorn (4474 m)di Swiss. Tetapi 4 anggota tim, yang saling terikat dalam satu tali, tewas dalam perjalanan turun, ketika salah seorang terpeleset jatuh dan menyeret yang lain. Musibah ini mengakhiri 11 tahun Zaman Keemasan. Tak urung lebih dari 180 puncak besar telah didaki dalam masa itu, sedikitnya satu kali, dan lebih dari setengahnya oleh orang-orang Inggris.</p>
<p><strong>1874 </strong><br />
WA Coolidge mendaki Puncak Jungfrau dan Wetterhorn di musim dingin, sehingga digelari Bapak Winter Climbing. Pada tahun 1870-an ini muncul trend baru, pendakian tanpa pemandu, yang segera menjadi ukuran kebanggaan di antara pendaki.</p>
<p><strong>1878 </strong><br />
Regu yang dipimpin Clinton Dent berhasil memanjat Aiguille du Dru di Perancis, memicu trend baru lagi, yaitu pemanjatan tebing-tebing yang tak seberapa tinggi namun curam dan sulit.</p>
<p><strong>1883 </strong><br />
WW Graham menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Pegunungan Himalaya dengan tujuan mendaki gunung sebagai olahraga dan petualangan. Dia mendaki beberapa puncak rendah di kawasan Nanda Devi dan Sikkim India, bahkan konon berhasil mencapai Puncak Changabang (6864 m).</p>
<p><strong>1</strong><strong>895 </strong><br />
Percobaan pertama mendaki gunung berketinggian di atas 8000 meter, Nanga Parbat (8125 m), oleh AF Mummery. Orang Inggris yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern ini hilang pada ketinggian sekitar 6000 meter.</p>
<p><strong>1899 </strong><br />
Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz, yang dibuat hampir 3 abad sebelumnya. Maka namanya diabadikan di situ.</p>
<p><strong>1902 </strong><br />
Percobaan pertama mendaki K2, oleh ekspedisi dari Inggris.</p>
<p><strong>1907 </strong><br />
Ekspedisi di bawah Tom Longstaff mendaki Trisul (7120 m), puncak 7000-an yang pertama. Longstaff adalah orang pertama yang mencoba penggunaan tabung oksigen dalam pendakian.</p>
<p><strong>1909 </strong><br />
Ekspedisi Persatuan Ahli Burung dari Inggris (BPUE) memasuki rawa-rawa sebelah selatan kawasan Carstensz. Dalam 16 bulan mereka kehilangan 16 orang anggota mati dan 120 sakit.</p>
<p><strong>1910 </strong><br />
Karabiner buat pertama kali dipakai dalam pendakian gunung, diperkenalkan oleh pemanjat-pemanjat dari Munich, Jerman Barat, diilhami oleh penggunaannya dalam pasukan pemadam kebakaran.</p>
<p><strong>1912 </strong><br />
Eks anggota ekspedisi BPUE 1090, Dr.AFR Wallaston, kembali ke Irian bersama C.Bodden Kloss, dengan 224 kuli pengangkut barang dan serdadu. Tiga jiwa melayang.</p>
<p><strong>1921 </strong><br />
George L.Mallory dkk. berhasil sampai di North Col Everest dalam perjalanan penjajagan mereka dari sisi Tibet.</p>
<p><strong>1922 </strong><br />
Usaha pertama mendaki Everest berakhir pada ketinggian 8320 meter di punggungan timur laut.</p>
<p><strong>1924 </strong><br />
Mallory dan Irvine yang kembali mencoba Everest, hilang pada ketinggian sekitar 8400 meter. Rekannya, Edward Norton, mencapai 8570 meter, rekor waktu itu, sendirian dan tanpa bantuan tabung oksigen.</p>
<p><strong>1931</strong><br />
Schmid bersaudara mencapai Puncak Matterhorn lewat dinding utara, sekaligus melahirkan demam North Wall Climbing. Peningkatan taraf hidup di Inggris dan Eropa daratan pada umumnya, menimbulkan perubahan pola penduduk kota melewatkan waktu luangnya, menyebabkan populernya panjat tebing.</p>
<p><strong>1932 </strong><br />
Grivel memperkenalkan cakar es (crampoon) model 12 gigi, yang karena efektifnya tetap disukai hingga kini.</p>
<p><strong>1933 </strong><br />
Comici dari Italia memanjat overhang dinding utara Cima Grande Lavredo di kawasan Dolomite, Alpen Timur, menandai aid climbing yang pertama. Sekitar tahun ini pula sol sepatu Vibram ditermukan oleh Vitale Bramini.</p>
<p><strong>1936 </strong><br />
Dr.A.H.Colijn, manajer umum perusahaan minyak Belanda dekat Sorong, dan geolog DrJ.J.Dozy, menemukan bijih tembaga di kawasan dinding timur Gletser Moriane, tak jauh dari kawasan Carstensz, Irian.</p>
<p><strong>1937</strong><br />
Bill Murray mengubah tongkat pendaki yang panjang menjadi kapak es, menandai lahirnya panjat es modern.</p>
<p><strong>1938 </strong><br />
Dinding utara Eiger di Swiss akhirnya berhasil dipanjat, oleh tim gabungan Jerman Barat dan Austria, yang oleh Hitler diiming-imingi dengan medali emas olympiade. Dinding maut ini sebelumnya telah menelan cukup banyak korban, dan berlanjut hingga kini. .</p>
<p><strong>1941</strong><br />
Ekspedisi Archbold ‘menemukan’ Lembah Baliem, kantung suku Dani dengan tingkat kebudayaan yang amat tinggi, di tengah belantara yang seolah tak berbatas dan tak tertembus. Irian kian jadi perhatian ilmuwan-ilmuwan dunia.</p>
<p><strong>1949 </strong><br />
Nepal membuka perbatasannya bagi orang luar.</p>
<p><strong>1950 </strong><br />
Tibet dicaplok Cina. Pendakian Himalaya dari sisi ini tak diperkenankan lagi. Maurice Herzog memimpin ekspedisi Perancis mendaki Annapurna (8091m), puncak 8000-an yang pertama, menandai awal 20 tahun Zaman Keemasan pendakian di Himalaya. Di Alpen, tali nilon mulai dipergunakan. Sebelumnya, tali serat tumbuhan hampir tak memiliki kelenturan, sehingga ada ‘hukum’ bahwa seorang leader tak boleh jatuh, sebab hampir pasti pinggangnya patah tersentak. Pakaian bulu angsa mulai membuat malam-malam di bivouac lebih nyaman.</p>
<p><strong>1951 </strong><br />
Don Whillan menemukan pasangannya, Joe Brown, duet pemanjat terkuat yang pemah dimiliki Inggris. Panjat bebas (free climbing) gaya Inggris menjadi tolok ukur dunia panjat tebing. Walter Bonatti dkk. menyelesaikan dinding timur Grand Capucin, awal aid climbing pada tebing yang masuk kategori big wall.<br />
Bermula di Inggris, terjadi Revolusi Padas. Tebing batu gamping ternyata tak serapuh yang selama itu disangka. Tebing-tebing granit dan batuan beku lainnya mendapat saingan.</p>
<p><strong>1952 </strong><br />
Herman Buhl solo di dinding timur laut Piz Badile di Swiss, dalam waktu 4 1/2 jam. Inilah nenek moyang speed climbing. Rekor waktu pada rute tersebut, yang dibuat tahun 1937, 52 jam !</p>
<p><strong>1953 </strong><br />
Herman Buhl dkk. menggapai Puncak Nanga Parbat (8125 m), puncak 8000-an kedua yang didaki orang. Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris, menjadi manusia-manusia pertama yang berdiri di puncak atap dunia, Everest.</p>
<p><strong>1954 </strong><br />
Ekspedisi Inggris sukses di Kangchenjunga, ekspedisi Perancis sukses di Makalu (8463 m). Di Alpen, Don Whillan dan Joe Brown mencatat dinding Barat Aiguille du Dru dalam 2 hari, rekor lagi.</p>
<p><strong>1955 </strong><br />
Walter Bonatti solo pilar barat daya du Dru 6 hari.</p>
<p><strong>1956 </strong><br />
Ekspedisi Jepang berhasil mendaki Manaslu (8163 m). Jepang segera menjadi salah satu negara besar dalam dunia pendakian di Himalaya.</p>
<p><strong>1957 </strong><br />
Herman Buhl dan tim Austria mencapai Puncak Broad Peak (8047 m), sekaligus mematok pendakian pertama gunung 8000-an dengan alpine tactic.</p>
<p><strong>1958 </strong><br />
Lapangan terbang perintis dibuka pada beberapa lokasi di Irian, membangkitkan semangat para pendaki gunung untuk menjajal Carstensz, sang perawan salju di khatulistiwa.</p>
<p><strong>1960 </strong><br />
Claudio Barbier dari Belgia solo ketiga dinding utara di Tre Cima Laverdo dalam 1 hari. Pertama kali speed climbing menggunakan teknik gabungan free dan aid climbing.<br />
Helm mulai sering digunakan para pemanjat tebing.<br />
Harness menjadi wajib, menyusul kematian seorang pemanjat Inggris di Dolomite. Harness pertama yang diproduksi massal dan dijual untuk umum terbuat dari webbing, merek Tankey.<br />
Tebing 48 Citatah mulai digunakan sebagai ajang latihan bagi pasukan Angkatan Darat kita.</p>
<p><strong>1961</strong><br />
Ekspedisi dari Selandia Baru coba mendaki Carstensz Pyramide tapi mengalami kegagalan sebab keterlambatan dukungan logistik lewat jembatan udara.</p>
<p><strong>1962 </strong><br />
Puncak Cerstensz Pyramide akhirnya berhasil digapai oteh tim Heinrich Heiner. Juga Puncak Eidenburg didekatnya, oleh ekspedisi yang dipimpin oleh Phillip Temple.<br />
Awal pemakaian baut tebing di Alpen; Tebing pantai mulai diminati. Pemanjat Amerika Serikat mulai bicara di Alpen, diawali Hemmings dan Robbins yang menciptakan lintasan super sulit di dinding barat du Dru.</p>
<p><strong>1963 </strong><br />
Tim gabungan Inggris-AS memanjat dinding selatan Aiguille du Fou, hardest technical climbing di Alpen waktu ilu, dengan teknik-teknik aid climbing gaya AS. Kode etik dalam panjat tebing mulai banyak diperdebatkan di rumah-rumah minum. Pemanjatan solo pertama Eiger Nordwand, oleh Michel Darbellay, dalam satu hari.<br />
Bonatti dan Zapelli menyantap mix climbing (ice dan rock) tersulit di Alpen, dinding utara Grand Pilier d’Angle di Mont Blanc. Seorang ahli gletser yang baru kembali dari Antartika berusaha mendaratkan pesawat terbangnya di di Puncak Jaya, dekat Carstensz. Untung angin kencang mengurungkan niatnya, sebab salju tebal di sana terlalu lunak sebagai landas pacu. Tapi buntutnya, dua pesawat DC 3 kandas di lereng utara dan selatannya, pada ketinggian sekitar 4300 meter.</p>
<p><strong>1964 </strong><br />
Ekspedisi Cina berhasil mendaki Shisha Pangma (8046 m)di Tibet, satu-satunya puncak 8000-an yang terletak diluar Nepal dan Pakistan (Karakoram). Beberapa pendaki Jepang serta 3 orang ABRI, Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Carstensz (4884 m) di Irian. Dua perkumpulan pendaki gunung tertua lahir, Mapala Ul di Jakarta dan Wanadri di Bandung. Tahun ini dianggap awal sejarah pendakian gunung di Indonesia.</p>
<p><strong>1965 </strong><br />
Seratus tahun pendakian pertama Matterhorn diperingati dengan peliputan pendakian Hornli dkk. Oleh BBC/TV sampai ke puncak. Untuk pertama kalinya pendakian gunung maupun panjat tebing menjadi olahraga yang juga dapat ‘ditonton’ orang banyak.<br />
Robbins dan John Harlin dri AS bikin lintasan lurus di dinding barat du Dru, mendemonstrasikan keunggulan pemanjat AS dalam pemanjatan panjang dan berat. Pemerintah Nepal menutup pendakian Himalaya di wilayahnya.</p>
<p><strong>1967 </strong><br />
Revolusi bagi para pemanjat es. Chouinnard memperkenalkan kapak es berujung lengkung, dan McInnes menawarkan jenis Terodactyl. Lahirnya sekrup es berbentuk pipa meningkatkan standar pemanjatan ice climbing.<br />
Penggunaan tali kernmantle dipelopori oleh Inggris.</p>
<p><strong>1968 </strong><br />
Nafas segar bagi para pendaki, sejumlah lapangan terbang milik misi Katolik dibuka (Ji Irian. Tapi dasar sial, hampir bersamaan dengan itu Pemerintah Rl tidak lagi mengeluarkan izin pendakian di kawasan Carstensz.</p>
<p><strong>1969 </strong><br />
Reinhold Messner keluar dari pertapaannya di tebing-tebing Alpen Timur, meluruk ke barat, menyikat dinding es raksasa tes Drotes dalam waktu 81/2 jam solo, membuyarkan rekor sebelumnya, 3 hari.<br />
Pemanjat-pemanjat Jepang mulai membanjiri pasaran di Alpen, antara lain bikin lintasan baru di Eiger.<br />
Sensus yang dilakukan British Mountaineering Club (BMC) mengatakan, ada 45.000 pemanjat dan 500.000 walkers, di Inggris saja.<br />
Nomer perdana majalah ‘Mountain’ beredar, menjadi media pendaki gunung dan pemanjat tebing pertama yang beredar luas dalam bahasa Inggris, sehingga banyak mempengaruhi perkembangan lewat perdebatan dan opini.<br />
Pemerintah Nepal membuka kembali wilayahnya bagi pendakian Himalaya, dengan beberapa peraturan baru dan membatasi pendakian pada puncak-puncak yang terdaftar dalam permitted peaks saja. Agen-agen trekking komersial tumbuh dan berjibun seperti kutu yak, menggelitik kelompok-kelompok kecil dari luar ‘main-main’ di Himalaya dengan mudah dan murah.<br />
Soe Hok Gie dan ldhan Lubis gugur di Gunung Semeru, terkena gas beracun.</p>
<p><strong>1970 </strong><br />
Dinding Selatan Annapurna dirambah tim Inggris, menggunting pita pembukaan era pendakian jalur-jalur sulit di gunung-gunung besar. Tingkat kesulitan lintasan menjadi lebih penting dari pada sekedar mencapai puncak. Ini tak lepas dari kian canggihnya perlengkapan panjat es, kecepatan pemanjatan meningkat drastis.<br />
Di Alpen artificial climbing tambah populer dan kaya teknik. Kurang lebih tahun ini pula lahir cabang panjat dinding. Tebing buatan yang pertama dikenal orang kemungkinan besar didirikan di Universitas Leeds,Inggris. Perancangnya Don Robinson, yang kemudian juga merancang dinding panjat di Acker’s Trust, Birmingham, dinding panjat pertama yang diklaim mampu menampung segala pegangan, pljakan dan gerakan panjat tebing, sekaligus menawarkan bentuk sculpture yang artistik.<br />
Sejalan dengan itu, bentuk-bentuk latihan terpisah dalam panjat tebing mulai menggema. Salah seorang pelopornya ialah Pete Livesey, pemanjat yang juga pecinta speleologi dan olahraga kano, serta punya dasar di atletik sebagai pelari. Pete tahu benar pentingnya latihan spesifik bagi jenis-jenis olahraga tersebut. Dan dia mencoba menerapkan prinsip yang sama pada panjat tebing. Pelan tapi pasti, panjat tebing mulai dipandang lebih sebagai kegiatan atletis, ketimbang sekedar ‘hura-hura di tebing’. Tak lagi memadai semboyan ‘best training for climber is climbing’, apalagi hanya dengan memupuk kejantanan lewat gelas-gelas bir, seperti yang selama &amp; dianut.</p>
<p><strong>1971 </strong><br />
Kawasan Carstensz kembali dibuka untuk pendakian, segera diserbu oleh ekspedisi-ekspedisi dari Australia, Jerman, AS, bahkan Hongkong. Tahun ini pula Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya, antara lain oleh Herman O. Lantang dan Rudy Badil, orang-orang sipil Indonesia pertama.</p>
<p><strong>1972</strong><br />
Untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam Olympiade Munich.</p>
<p><strong>1974</strong><br />
Pasangan Reinhold Messner dan Peter Habeler mendaki Hidden Peak (8068 m) di Karakoram, 3 hari dengan Alpine push, kemudian memecahkan rekor kecepatan Eiger, 10 jam.</p>
<p><strong>1975 </strong><br />
Ekspedisi dari Jepang menjadi tim wanita pertama yang menjejakkan Puncak Everest. Sementara itu Cina mengirimkan tim pertamanya, dari punggungan timur laut. Perlengkapan panjat es kian lengkap, lalu ramalan cuaca kian akurat dengan intervensi komputer. Akibatnya, seolah tak ada lagi pelosok Alpen yang terpencil.<br />
Namun, bercak-bercak kapur magnesium mulai terasa merisihkan tebing-tebing di Inggris dan Eropa daratan, kebanyakan dituduhkan sebagai ulah pemanjat-pemanjat ‘hijau’, yang mengobral magnesium pada lintasan-lintasan yang seharusnya bisa dilampaui tanpa bubuk itu.</p>
<p><strong>1976 </strong><br />
Harry Suliztiarto tak sanggup lagi menahan obsesinya, dengan tali nilon dia mulai latihan panjat memanjat di Citatah, dan dibelay oleh pembantu rumahnya. Patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.</p>
<p><strong>1977 </strong><br />
Skygers Amateur Rock Climbing Group didirikan di Bandung oleh Harry Suliztiaito, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu, Deddy Hikmat. Inilah awal tersebarnya kegiatan panjat tebing di Indonesia.<br />
Ekspedisi Selandia Baru coba mendaki Everest tanpa bantuan sherpa. Mereka cuma sampai South Col, tapi mereka mereka seolah memukul gong yang gaungnya merantak ke mana-mana, ‘ekspedisi berdikari’. Yang pro mengganggapnya sebagai kejujuran yang wajib, yang kontra melecehkannya sebagai kesia-siaan yang konyol. Perdebatan tak selesai hingga kini.</p>
<p><strong>1978 </strong><br />
Messner &amp; Habeler menggegerkan dunia kangouw Himalaya dengan pendakian Everest tanpa bantuan tabung oksigen. Tambah geger ketika Messner bersolo karier di Nanga PQrtied dalam waktu 12 hari. Pendakian solo ini oleh banyak pakar dianggap lebih penting daripada pendakian tanpa oksigennya.<br />
Pemerintah Nepal menambahkan beberapa permitted peaks.</p>
<p><strong>1979 </strong><br />
Harry Suliztiarto memanjat atap Planetarium, Taman Ismail Marzuki.</p>
<p><strong>1980 </strong><br />
Tebing Parang untuk pertama kalinya oleh tim ITB, di bawah pimpinan Harry Sulisztiarto. Wanadri untuk pertamakalinya menyelenggarakan ekspedisi ke Carstensz di Pegunungan Jayawijaya. Skygers menyelenggarakan sekolah panjat tebing untuk pertama kalinya. Sampai kini belum ada lagi kelompok yang membuat pendidikan panjat tebing untuk umum seperti ini.</p>
<p>Pemerintah Nepal membuka kesempatan pendakian musim dingin, di samping musim semi dan musim gugur. Kian banyak kaki meratakan jalan-jalan setapak dipelbagai pelosok Himalaya, kikan tinggi sampah menumpuk di sana-sini. Sebagai gantinya, konon mata uang asing makin deras mengalir ke sana. Tapi siapa yang tambah kaya?<br />
<strong>1981 </strong><br />
Dua ekspedisi Indonesia sekaligus di dinding Selatan Carstensz, Mapala Ul dan ITB. Salah seorang anggota tim Mapala Ul, Hartono Basuki, gugur di sini. Jayagiri dari Bandung mengirimkan Danardana mengikuti sekolah pendaki gunung di Glenmore Lodge, Skotlandia, dilanjutkan pendakian Matterhorn di Swiss.</p>
<p><strong>1982</strong><br />
Jayagiri kembali mengirimkan orang, Irwanto, ke sekolah pendakian di ISM, Swiss, dilanjulkan ekspedisi 4 orang ke Mont Blanc di Perancis, dan Matterhorn serta Monte Rosa di Swiss.<br />
Ahmad dari kelompok Gideon Bandung tewas terjatuh di Tebing 48 Citatah, korban pertama panjat tebing di Indonesia.</p>
<p><strong>1984 </strong><br />
UGM (Mapagama) mengirimkan Tim Ekspedisi Gajah Mada ke Irian Jaya. Tim panjatnya berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramide melalui jalur normal.<br />
Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur, serta tebing pantai Uluwatu di Bali, berhasil dipanjat oleh kelompok Skygers bersama GAP (Gabungan Anak Petualang) dari Surabaya.</p>
<p><strong>1985 </strong><br />
Tebing Serelo di Lahat, Sumatra Selatan, berhasil dipanjat oleh tim yang menamakan dirinya Ekspedisi Anak Nakal. Ekspedisi Mapala Ul gagal mencapai Puncak Chulu West (6584 m) di Himalaya, Nepal. Ekspedisi Jayagiri gagal memanjat Eiger Nordwand.</p>
<p><strong>1986 </strong><br />
Kelompok gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di selatan Toraja, Sulawesi Selatan.<br />
Ketompok UKL (Unit Kenal Lingkungan) Univeritas Pajajaran Bandung memanjat tebing Gunung Lanang di Jawa Timur.<br />
Pemanjat-pemanjat Jayagiri Bandung merampungkan Dinding Ponot di air terjun Sigura-gura, Sumatera Utara.<br />
Ekspedisi Jayagiri mengulang pemanjatan Eiger, berthasil, menciptakan lintasan baru. Mapala Ul mengirimkan ekspedisi ke Puncak Kilimanjaro (5895 m) di Afrika antara lain Don Hasman (Wartawan Mutiara).<br />
Kompetisi panjat tebing pertama di dunia diselenggarakan di Uni Soviet, di tebing alam, dan sempat ditayangkan juga oteh TVRI.</p>
<p><strong>1987 </strong><br />
Empat Anggota Ekspedisi Aranyacala Universitas Trisakti tewas diserang Gerombolan Pengacau Irian dalam perjalanan menuju Jayawaijaya.<br />
Ekspedisi Wanadri menyelesaikan pemanjatan Tebing Batu Unta di Kalimantan Barat. Kelompok Trupala memanjat tebing Bukit Gajah di Jawa Tengah. Sepikul di Jawa Timur disantap Skygers.<br />
Beberapa ekspedisi dan pendaki Indonesia dikirimkan keluar negeri. Mapala Ul ke Puncak Chimborazo (6267 m)dan Cayambe (gagal) di Pegunungan Andes, Amerika Selatan.<br />
Ekspedisi Wanita Indonesia Mendaki Himalaya ke lmja Tse, Himalaya, hampir bersamaan dengan dua anggota Ekspedisi Jayagiri Saddle Marathon yang sedianya berambisi memanggul sepeda ke puncak namun terhadang birokrasi Nepal. Di Afrika, ekspedisi sepeda ini berhasil mencapal puncak tertingginya, Kilimanjaro (5895 m) dan Mount Kenya (5199 m, tanpa sepeda).<br />
Ekspedisi Wanadri gagal mencapai Puncak Vasuki Parbat (6792 m) di Garhwal Himalaya, India.<br />
Lomba panjat tebing pertama di Indonesia dilaksanakan di tebing pantai Jimbaran di Ball.</p>
<p><strong>1988 </strong><br />
Dinding panjat buat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, dibawa oleh 4 atlet pemanjat Prancis yang diundang atas kerjasama Kantor Menpora dengan Kedubes Perancis di Jakarta. Mereka juga sempat memberikan ilmu lewat kursus singkat kepada pemanjat-pemanjat kita. Bersamaan, lahir Federasi Panjat Gunung &amp; Tebing Indonesia, diketuai Harry Suliztiarto.<br />
Untuk pertama kalinya disusun rangkaian kejuaraan untuk memperebutkan Piala Dunia Panjat Dinding yang direstui dan diawasi langsung oleh UIAA (badan Internasional yang membawahi federasi-federasi panjat tebing dan pendaki gunung), diawali dengan kejuaraan di Snowbird, Utah, AS.<br />
Ekspedisi panjat tebing pertama yang dilakukan sepenuhnya oleh wanita, Ekspedisi Putri Parang Aranyacala, Tower III. Sedangkan kelompok putranya memanjat Tebing Gunung Kembar di Citeureup, Bogor.<br />
Ekspedisi UKL Unpad Bandung di Batu Unta, Kalbar, kehilangan satu anggotanya, Yanto Martogi Sitanggang jatuh bebas. Speed climbing pertama di Indonesia dilakukan oleh Sandy &amp; Jati, di dinding utara Parang, 3 jam. Sekaligus merupakan pemanjatan big wall pertama tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali, keduanya hanya dihubungkan dengan tali.<br />
Lomba panjat ‘tebing buatan’ pertama dilakukan di Bandung, mengambil dinding gardu listrik.<br />
Ekspedisi Wanadri berhasil menempatkan 3 pendakinya di Puncak Pumori (7145 m) di Himalaya, Nepal, disusul pasangan Hendricus Mutter dan Vera dari Jayagiri mendaki Imja Tse (6189 m), tanpa bantuan sherpa.<br />
Lalu di Alpen, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing gagal memenuhi target waktu 2 hari pemanjatan dinding utara Eiger, mulur menjadi 5 hari. Sedangkan ekspedisi dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru di dinding yang sama.<br />
Di Yosemite, AS, Sandy Febyanto dan Jati Pranoto dari Jayagiri memanjat Tebing Half Dome (gagal memecahkan retor John Bachar &amp; Peter Croft 4,5 jam) dan Tebing El Capitan (gagal memecahkan rekor 10,5 jam).</p>
<p><strong>1989 </strong><br />
Awal tahun dunia panjat tebing Indonesia merunduk dilanda musibah, gugurnya salah satu pemanjat terbaik Indonesia, Sandy Febyanto, jatuh di Tebing Pawon, Citatah. Tapi tak lama, semangat almarhum seolah justru menyebar ke segala penjuru, memacu pencetakan prestasi panjat tebing di Bumi Pertiwi ini.<br />
Tim Panjat Tebing Yogyakrta/TPTY melakukan ekspedisi ke Dinding Utara Carstensz tetapi gagal mencapai puncak secara direct, namun jalur normal Carstensz berhasil dipanjat sebelumnya.<br />
Kembali kawasan Citeureup dirambah anak Aranyacala, kali ini Tebing Rungking.<br />
Arek-arek Young Pioneer dari Malang memanjat tebing Gajah Mungkur di seputaran dalam kawah Gunung Kelud. Kemudian tim Jayagiri dalam persiapannya ke Lhotse Shar di Nepal, mematok target memanjati semua pucuk-pucuk tebing sekeliling kawah Kelud tadi, tapi tak berhasil. Ekspedisi Lhotse Shar itu sendiri batal berangkat.<br />
Tebing Uluwatu dipanjat ekspedisi putri yang kedua, dari Mahitala Unpar.<br />
Kelompok MEGA Universitas Terumanegara melakukan Ekspedisi Marathon Panjat Tebing, beruntun di tebing-tebing Citatah, Parang, Gajah Mungkur, dan berakhir di Uluwatu, dalam waktu hampir sebulan, marathon panjat tebing pertama di Indonesia. Ekspedisi Putri Lipstick Aranyacala dia Bambapuang, tapi musibah menimpa sebelum puncak tergapai. Ali Irfan Batubara, fotografer tim, tewas tergelincir dari ketinggian.<br />
Tahun ini tercatat tak kurang dari sepuluh kejuaraan panjat dinding diselenggarakan di Indonesia. Beberapa yang besar antara lain di Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Trisakti Jakarta, ISTN Jakarta, di Markas Kopassus Grup I Serang, dua kali oleh Trupala SMA-6 (di Balai Sidang dan Ancol), lalu SMA 70 Bulungan Jakarta, kelompok KAPA FT Ul, Geologi ITB.<br />
Mapala Ul bikin 2 ekspedisi, Mount Cook (3764 m) di Selandia Baru dan Puncak McKinley (6149 m) di Alaska. Empat anggota Wanadri mengikuti kursus pendakian gunung es di Rainier Mountaineering Institute di AS, dilanjutkan dengan bergabung dengan ekspedisi AS ke Kangchenjunga di Himalaya.<br />
Di Alpen, Ekspedisi Wanita Alpen Indonesia berhasil pula merampungkan misinya, mendaki 5 puncak tertinggi di 5 negara Eropa, Mont Blanc (4807m, Perancis), Grand Paradiso (4601 m, Italia), Marts Rosa (4634 m, Swiss), Grossgiockner (3978 m, Austria) dan Zugsptee (2964 m, Jerman Barat).<br />
Akhir tahun ini ditutup dengan gebrakan Budi Cahyono melakukan pemanjatan solo di Tower III Tebing Parang. Artificial solo climbing pada big wall yang pertama di Indonesia.</p>
<p><strong>1991 </strong><br />
Aryati menjadi wanita Asia pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di Puncak Annapurna IV, Himalaya, pada Ekspedisi Annapurna Putri Patria Indonesia.<br />
Tim Srikandi Tim Panjat Tebing Yogyakarta (6 orang) membuat jalur di Bukit Tanggul, Tulung Agung, Jawa Timur.</p>
<p><strong>1992 </strong><br />
Dunia petualangan Indonesia kembali berduka karena kehilangan dua orang terbaiknya, Norman Edwin dan Didiek Syamsu, anggota Mapala UI tewas di terjang badai di Gunung Aconcagua, Argentina.<br />
Ekspedisi Pemanjat Putri Indonesia menjejakkan kakinya di Puncak Tebing Cima Ovest, Tre Cime, Italia.<br />
Ekspedisi Putri Khatulistiwa Tim Panjat Tebing Yogyakarta memanjat dinding utara Bukit Kelam, Sintang, Kalimantan Barat.</p>
<p><strong>1996 </strong><br />
Clara Sumarwati membuat kontroversi dalam pendakiannya di Everest, puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya pada tanggal 26 September 1996. Banyak pihak di Indonesia yang meragukan bahwa kedua kakinya telah menjejak puncak tertinggi di dunia itu. Tetapi berdasarkan data dari Adventure Stats.com pada bulan Januari 2002 nama Clara Sumarwati telah tercatat sebagai pendaki Everest ke 836.</p>
<p><strong>1997 </strong></p>
<p>Pratu Asmujiono menyusul Clara menjejakkan kakinya di Puncak Everest pada tanggal 26 April. Menurut catatan Adventure Stats.com, ia merupakan orang yang ke 851. Asmujiono berangkat bersama tim Ekpedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan anggota Kopassus dan pendaki sipil lainnya.</p>
<p>(GS,Bahan: katalog LPDN, berbagai sumber).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=13&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/sejarah-pendakian-gunung-dan-panjat-tebing-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gunung Kapur Citatah, Guru Para Pemanjat Tebing</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/gunung-kapur-citatah-guru-para-pemanjat-tebing/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/gunung-kapur-citatah-guru-para-pemanjat-tebing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 04:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Satu pijakan saja yang menumpu tubuh Akbar, sementara tangan kirinya meraba-raba permukaan tebing yang lain berusaha mencari pegangan. Karena lelah bertahan, tubuh Akbar pun terempas dan membentur sisi tebing bagian bawah yang agak teras. Kakinya terluka, namun tidak seberapa besar. Akbar tidak menyerah. Semangatnya terus menggeliat. Ia mencoba lagi mencapai puncak tebing 125 di kawasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=11&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong><span style="font-family:Arial;font-size:medium;"><br />
<img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi1.jpg" border="0" alt="" width="259" height="370" /><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;">Satu pijakan saja yang menumpu tubuh                Akbar, sementara tangan kirinya meraba-raba permukaan tebing yang                lain berusaha mencari pegangan. Karena lelah bertahan, tubuh Akbar                pun terempas dan membentur sisi tebing bagian bawah yang agak                teras. Kakinya terluka, namun tidak seberapa besar.</p>
<p>Akbar tidak menyerah. Semangatnya terus menggeliat. Ia mencoba                lagi mencapai puncak tebing 125 di kawasan pegunungan kapur                Citatah, Jawa Barat. Lima langkah lagi ke atas, puncak tebing pun                berhasil disentuhnya.<br />
Ini kisah pemanjatan pertama Akbar di tebing gunung kapur Citatah.                Tebing ini memang cocok untuk berlatih panjat tebing bagi pemula                seperti Akbar. Karakteristik batuannya yang kapur dan cacat                tebingnya yang besar-besar, memudahkan pemanjat pemula untuk                berlatih. Ketinggiannya yang hampir seratus meter memang membuat                nyali agak ciut. Namun, puncak tebing tetap memancing penasaran                para pendakinya.<br />
Bagi mereka yang sudah terlatih, masih ada beberapa rute                pemanjatan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Umumnya,                panjang rute hanya belasan meter, dengan tingkat kesulitan yang                bervariasi, dari 5.10 sampai 5.13 menurut ukuran panjat tebing.                Rute-rute seperti ini kebanyakan jadi tempat berlatih atlet panjat                tebing yang sering mengikuti event kejuaraan, jadi semacam rute                sport climbing. Poster, Rockstar, dan Cobra adalah nama-nama rute                pemanjatan di tebing 125 Citatah.<br />
<img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi2.jpg" border="0" alt="" width="139" height="200" align="left" />Mau rute pemanjatan                yang lebih tinggi juga ada dan tidak sesulit seperti rute sport                climbing. Tingginya hampir seratus meter dan menggunakan sistem                multipitch, pemanjatan tebing yang terbagi dalam beberapa lintasan                sampai puncaknya dalam satu tim. Untuk pemanjatan multipitch                disarankan membawa pengaman panjat tebing yang agak banyak, sebab                setiap menambah ketinggian kita harus memasang pengaman sendiri.                Kalau pada rute sport climbing, beberapa pengaman permanen                (Hanger) sudah terpasang mantap di sana. Kita tinggal                menggunakannya saja.<br />
Para pengunjung tebing Citatah kebanyakan dari Bandung, mungkin                karena letaknya yang hanya satu jam perjalanan dari kota kembang                itu. Namun, beberapa ada juga yang datang dari Jakarta dan Bogor.                Selain atlet-atlet panjat tebing, sebagian yang sering memanjat di                Citatah berasal dari kalangan pencinta alam. Sampai-sampai novelis                Ayu Utami ikutan manjat di Citatah untuk merampungkan sebuah novel                yang kabarnya bercerita tentang pemanjat tebing. Umumnya,                sepatu-sepatu panjat mereka yang berwarna cerah menghiasi tebing                kapur yang berwarna kapur monoton itu di waktu akhir pekan.                Bahkan, karena ramainya para pemanjat kadang harus mengantre                giliran untuk memanjat.<br />
Seperti daerah pegunungan kapur lainnya, Citatah kering dan panas.                Hampir-hampir tidak ada pohon tempat berteduh, hampir sama dengan                kawasan gunung kapur Ciampea dan Kelapa Nunggal Bogor tempat                nongkrong pemanjat-pemanjat dari Jakarta dan Bogor. Tapi sekarang                jangan takut kepanasan lagi kalau memanjat di sana. Beberapa waktu                lalu teman-teman dari klub panjat tebing Skygers sudah membuat                saung-saung kecil yang dapat menghindari kulit berubah legam.                Katanya, biar tebing Citatah semakin nyaman buat manjat dan                semakin ramai.<br />
<img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi3.jpg" border="0" alt="" width="138" height="200" align="right" />Sangat sayang kalau                satu dua hari saja berkunjung ke Citatah untuk panjat tebing.                Paling enak, berhari-hari di Citatah terbenam dalam tarian-tarian                vertikal panjat tebing sampai otot-otot lengan tak kuasa lagi                menggenggam tebing, jadi puas dibuatnya. Soal menginap, jangan                takut tidak kebagian tempat bermalam. Kita bisa menumpang di saung                yang jadi base camp anak-anak Skygers kalau mau, teman-teman                pemanjat di sana ramah-ramah. Selain itu, kita juga bisa bagi-bagi                ilmu panjat tebing.<br />
Bisa dibilang, kawasan gunung kapur Citatah merupakan kompleksnya                panjat tebing di Jawa Barat, meskipun mungkin tidak sebagus                kompleks pemanjatan tebing di Toraja, Sulawesi sana. Selain tebing                125, di kawasan ini masih ada beberapa tebing lagi yang biasa jadi                ajang berlatih para pemanjat seperti tebing 48 dan tebing 90.                Nama-nama tebing itu diberikan para pemanjat dengan menunjuk pada                ketinggiannya. Dipilihnya kawasan ini sebagai tempat memanjat                karena memang batuannya yang kapur sangat baik untuk panjat tebing                selain granit dan limestone.<br />
Seperti memanjat di tempat lain, memanjat di tebing Citatah juga                ada etikanya. Etika berarti aturan main yang harus dihormati oleh                suatu komunitas, dalam hal ini berlaku untuk komunitas pemanjat                tebing. Menghormati masyarakat setempat, menghormati sesama                pemanjat, tidak merusak tebing dan tidak menimbulkan erosi                lingkungan adalah etika yang harus dihormati kalau mau manjat di                tebing Citatah. Demikian tulis sebuah papan pengumuman di kaki                tebing yang memuat pasal-pasal aturan main itu.<br />
Sepele mungkin soal etika ini, tapi melanggarnya bisa sangat                menyinggung pemanjat yang lain. Kalau sudah begini, panjat tebing                jadi tidak asyik lagi. Tidak percaya? Pemanjat top Amerika, Ron                Kauk pernah membawa gaya modern dalam membuat jalur pemanjatan ke                Yosemite National Park yang masih memegang teguh konservasi                alamnya. Ketika bertemu dengan John Bachar, pema-njat lokal yang                masih memegang teguh gaya tradisional, pukul-pukulan di antara                keduanya tak bisa dihindarkan. Perkara pun selesai di Pengadilan.                Sayang, panjat tebing di Indonesia belum serius menaruh perhatian                pada etika.</p>
<p><img src="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi4.jpg" border="0" alt="" width="200" height="138" align="left" />Tinggal Kenangan<br />
Ternyata, pegunungan kapur Citatah yang terletak di antara Cianjur                dan Bandung tidak hanya menarik minat para pemanjat tebing, tapi                juga pengusaha penambang kapur. Puluhan pabrik kapur dan marmer                berjejer di sepanjang jalan yang menjadi pintu gerbang ke arah                Bandung itu. Bahkan, beberapa gunung kapur ada yang tinggal                setengahnya, habis ditambang sejak seabad lalu.<br />
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemanjat                tebing yang biasa mangkal di Citatah. Penambangan kapur dengan                menghancurkan gunung kapur yang sudah dimulai dari arah Cianjur,                cepat atau lambat akan berujung pada penghancuran tebing-tebing                tempat para pemanjat berlatih. Menurut Tedy, pentolan klub panjat                tebing Skygers, sudah ada pengusaha yang memiliki izin untuk                menambang tebing 125 Citatah. “Tinggal menunggu waktu saja,”                begitu katanya.<br />
Bisa dibilang, perkembangan panjat tebing di Indonesia mulainya                dari tebing-tebing kapur Citatah. Sederet nama-nama pemanjat                tebing legendaris memulai prestasinya setahap demi setahap di                tempat ini. Bahkan, beberapa pemanjat top Prancis yang diundang                Kantor Menpora tahun 1988 dulu sempat menularkan ilmunya kepada                pemanjat-pemanjat Indonesia di Citatah. Jadi secara historis,                tebing kapur Citatah juga punya arti bagi panjat tebing Indonesia.<br />
Sekarang, usaha-usaha para pemanjat itu di Citatah sudah menuai                2222222menyejajarkan nama Indonesia dengan negara-negara lain.                Bukan hanya itu, para pemanjat adventure yang biasa melakukan                ekspedisi panjat tebing pun punya prestasi karena ketekunannya                berlatih, salah satunya di tebing Citatah. Tapi sayang, kalau                kekhawatiran para pemanjat kita mengenai kehancuran tebing Citatah                sampai terjadi, maka tebing Citatah hanya akan jadi tinggal                kenangan.<br />
<strong>(Foto dan Teks: Dadang Sukandar) </strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=11&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/25/gunung-kapur-citatah-guru-para-pemanjat-tebing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/1027/hobi4.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Panjat dinding</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/bagaimana-panjat-dinding/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/bagaimana-panjat-dinding/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 13:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tak Hanya Stamina&#8221; Pagi. Lima anak muda sedang berusaha keras memanjat dinding yang terbuat dari kayu. Jari jemarinya mencengkram kuat. Sesekali harus melompat sambil tetap meraih cenongkan kayu. Sesekali juga, tangannya meraih kapur putih yang disematkan dipinggang. Setelah mencapai puncak, pria itu meluncur turun. Olahraga ini tidak seperti yang lainnya. Selain bertumpu pada kekuatan tangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=8&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Sylfaen;"><span style="font-size:130%;"><span style="color:#ff0000;">&#8220;Tak Hanya Stamina&#8221;</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Pagi. Lima anak muda sedang berusaha keras memanjat dinding yang terbuat dari kayu. Jari jemarinya mencengkram kuat. Sesekali harus melompat sambil tetap meraih cenongkan kayu. Sesekali juga, tangannya meraih kapur putih yang disematkan dipinggang. Setelah mencapai puncak, pria itu meluncur turun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Olahraga ini tidak seperti yang lainnya. Selain bertumpu pada kekuatan tangan dan kaki, juga harus memiliki keahlian.<span> </span>Bagi orang yang fobia dengan ketinggian, alangkah baiknya olahraga ini tidak perlu diikuti. Kegandrungan merayapi dinding bak binatang cicak,<span> </span>seakan bukan hal yang aneh lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Olahraga ini biasa disebut panjat dinding. Jika di alam terbuka dinamai panjat tebing. Panjang dinding, hanyalah latihan dasar agar suatu saat nanti bisa menikmati langsung kemampuannya di alam terbuka. Di Kampus-kampus,<span> </span>tak lengkap rasanya, jika tidak menyiapkan sarana ini. Banyak mahasiswa yang tidak sedikit ikut menikmati olaharaga ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Selain memerlukan stamina, olahraga satu ini dibutuhkan konsentrasi untuk menyiasati agar tangan dan kaki selalu menempel serta tidak terpeleset.<span> </span>Jika salah dalam menentukan posisi, maka resiko jatuh sangat mudah terjadi. Namun jangan takut, biasanya sudah diikatkan tali dipinggangnya. Sehingga, tidak langsung terjatuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">“Kita perlu menjiwai terlebih dahulu titik-titik yang akan kita taklukan. Ini sebagai salah satu prosesi memanjat. Kekuatan otot tangan dan kaki, memang menjadi andalan, tapi ketrampilan juga menjadi penentunya,” ujar Wawan, seorang pemanjat dinding di Universitas Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Titik-titik yang dimaksud adalah pinjakan poin. Pijakan ini terbuat dari batu buatan yang dipasang di dinding. Fungsinya untuk dijadikan pijakan atau pegangan pada saat ingin memanjat. Tinggi dinding, biasanya mencapai 20 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Jika tidak mampu mengendalikan diri, biasanya atlet sulit untuk merayap lebih tinggi. Semakin tinggi dinding, maka semakin besar juga kekuatan tubuh untuk bisa mencapai titik puncaknya. Karena, semakin tinggi maka semakin kuat grativasi bumi. Sedangkan tumpuan kaki dan tangan manusia <span> </span>terbatas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">“Kalau jiwa kita sedang sulit mengendalikan diri, maka tidak mungkin bisa menaklukannya. Makanya, harus terus berlatih. Kalau perlu, menatap papan dinding harus dilakukan. Ini untuk membentuk kesabaran olahraga memanjat,” ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Kenikmatan panjat dinding, usai penaklukan. Tanpa mental yang baik, seseorang tidak akan sanggup menikmati alam dari ketinggian yang antigravitasi ini. Jangan harap bisa berlenggang-lenggok di papan panjat. Yang melihat dari bawah, seperti liukan seni tarian yang indah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Dinding yang dibuatnya, bervariasi tingkat kesulitan kelokannya. Ada yang dibuat khusus pemula dan yang profesional. Yang pemula, tingkat pijakannya berdekatan dan mudah diraih tangan atau kaki. Sedangkan yang profesional, lebih sulit. Biasanya, dibuatkan kemiringan dinding. Semakin profesional, maka kemiringan juga semakin terjal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Olahraga ini, masih tergolong mahal. Selain memerlukan sarana dinding memanjat, juga harus memiliki peralatan yang cukup. Semakin berkualitas alatnya, maka semakin mahal harganya. Apalagi yang berlisensi dan sebagian besar masih impor dari luar negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Beberapa alat wajib yang harus dipakai, yaitu <em>figure of 8</em> (<em>descender</em>), <em>harness, Gri-gri, carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, runner </em>(dua <em>carabiner gate</em> dan <em>bent gate</em> yang disatukan dengan memakai <em>quickdraw sling</em>), sepatu panjat, helm, <em>chalk bag</em> dan <em>magnesium karbonat</em><span> </span>yang <span> </span>berfungsi untuk menjaga tangan terhindar dari keringat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Soal alat, Wawan mengatakan, tidak harus lengkap untuk pemula. Yang paling terpenting alat-alat yang berfungsi untuk keselamatan. Faktor inilah, yang harus diprioritaskan. Pemula, kata dia, harus memahami alat dengan baik dan benar. Begitupun soal kecermatan penggunaan alat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Intinya, kata dia, keberanian menjadi penentunya. Jika merasa takut, tidak akan bisa berhasil menaklukannya. Menurut dia, yang paling nikmat dari olahraga ini adalah berada di ketinggian. Sama seperti kehidupan. Untuk mencapai keberhasilan harus dimulai dari usaha dan kerja keras. “Itulah maknanya. Tidak mungkin mencapai puncak keberhasilan jika tidak kerja keras,” ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">“Itulah makna<span> </span>panjat dinding. Kita ingin melampiaskan semua persoalan dengan usaha dan kerja keras. Tidak hanya itu, kita bisa mensyukuri betapa luasnya alam ini, sehingga bisa tunduk dengan Maha Kuasa,” tuturnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;">Untuk yang fobia ketinggian, cobalah untuk mencobanya.<span> </span>Olahraga ini bisa dijadikan terapi alternatif. Lamban laun, ketakutan itu bisa dihilangkan. “Semua kalangan bisa mencobanya. Kesannya memang mahalan, padahal sangat sederhana. Orang yang takut ketinggian, jika terbiasa akan hilang dengan sendirinya,” ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Sylfaen;"> </span></p>
<p><span class="post-author vcard"> Diposting oleh <span class="fn">Rusman</span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=8&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/bagaimana-panjat-dinding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panjat Dinding di Indonesia</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/panjat-dinding-di-indonesia/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/panjat-dinding-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 13:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA – Kemunculan olahraga panjat dinding tak bisa dilepaskan dari perkembangan panjat tebing di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu cabang mendaki gunung. Di Indonesia, perkembangan panjat tebing mulai disebarluaskan dari Gladian Pecinta Alam pada 1975 di Gunung Citatah, Padalarang, Jawa Barat. Pada salah satu mata acara pertemuan, para pecinta alam ini mengajarkan teknik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=5&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:x-small;">JAKARTA – Kemunculan olahraga                panjat dinding tak bisa dilepaskan dari perkembangan panjat tebing                di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu cabang mendaki                gunung. Di Indonesia, perkembangan panjat tebing mulai                disebarluaskan dari Gladian Pecinta Alam pada 1975 di Gunung                Citatah, Padalarang, Jawa Barat. Pada salah satu mata acara                pertemuan, para pecinta alam ini mengajarkan teknik panjat dan                turun tebing.<br />
Tahun 1976, Harry Suliztiarto mahasiswa Seni Rupa ITB, tak sanggup                lagi menahan obsesinya. Dengan tali nilon dia mulai latihan                panjat-memanjat di Citatah, dan di-belay oleh pembantu rumahnya.                Tahun berikutnya, bersama Agus Resmonohadi, Heri Hermanu dan Deddy                Hikmat, rekan-rekan mahasiswa ITB, Harry mendirikan Skygers                Amateur Rock Climbing Group di Bandung<br />
Pada dekade 80-an, Skygers membuka kursus panjat tebing (yang                dijuluki padepokan), yang menyedot banyak murid berasal dari                berbagai provinsi dan berhasil menyebarluaskan olahraga panjat                tebing di Indonesia.<br />
Dunia petualangan Indonesia makin marak ketika empat atlet panjat                tebing papan atas dari Prancis datang ke Jakarta. Atas undangan                Kantor Menpora dan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, mereka                menularkan ilmu pemanjatan pada dinding buatan kepada para                pemanjat lokal pada 1988. Di waktu yang sama, lahir Federasi                Panjat Gunung dan Tebing Indonesia. Ketuanya, Harry Suliztiarto –                pemanjat legendaris yang sempat merayapi atap Planetarium Taman                Ismail Marzuki, Jakarta.<br />
Sejak persentuhan itu panjat dinding terus berkembang. Tiap tahun                popularitasnya menunjukkan grafik yang menaik. Dari Pulau Jawa,                kegiatan ini menyebar ke luar. Pada 1991, digelar kejuaraan                nasional panjat dinding yang pertama di Padang, Sumatera Barat.                Sebelumnya ada kejuaraan dan diikuti pemanjat se-Indonesia, namun                julukannya belum lagi kejuaraan nasional, dan diselenggarakan di                Jawa dan Bali saja.<br />
Dibanding panjat tebing alam, memanjati dinding buatan menawarkan                beberapa kemudahan. Satu contoh dari segi pencapaian lokasi,                dinding panjat buatan jauh lebih gampang. Dinding panjat dibangun                pada wilayah keramaian, seperti kampus, mal atau pusat olahraga.<br />
Kondisi ini sangat berbeda dengan pemanjatan di tebing alam.                Seorang pemanjat harus berlelah-lelah mencapai kaki tebing sebelum                melakukan pemanjatan. Tak jarang, kemah induk pemanjatan harus                dicapai setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari.<br />
Ini sebabnya dinding panjat buatan sekarang tumbuh subur di                berbagai kampus dan sekolah menengah di kota-kota besar. Seakan                suatu fasilitas pendidikan tidak lengkap jika tanpa dinding                panjat. Di Jakarta hampir semua kampus besar seperti Universitas                Borobudur, Universitas Tarumanegara, Universitas Mercu Buana, dan                sebagainya memiliki dinding panjat. Sekolah menengah pun demikian.<br />
Walau lebih mudah dicapai, bukan berarti panjat dinding tak butuh                kesiapan mental dan fisik si pelakunya. Tanpa mental yang baik,                seseorang takkan sanggup menikmati tarian ketinggian yang                antigravitasi ini. Jangan harap bisa berlenggang-lenggok di papan                panjat.<br />
Fisik yang amburadul sudah pasti akan menghambat proses                pemanjatan. Itu sebabnya, disarankan untuk tetap giat berlatih                agar stamina bisa tetap terjaga. Persiapan fisik yang terbaik                adalah melakukan angkat badan. Namun sebelum ini, jika mengikuti                petunjuk kesehatan olahraga, tentunya harus ada persiapan fisik                seperti lari ringan dan senam untuk memperkuat jantung dan paru.                Melatih otot jari dan lengan berarti sebelumnya mengembangkan otot                pundak dan pangkal lengan. Kunci kesuksesan pemanjat dalam                menyelesaikan jalur tanpa jatuh adalah kekuatan jari mencengkeram                pegangan.<br />
Dalam kegiatan panjat tebing hobi yang utama adalah berhasil                mencapai puncak jalur tanpa terjatuh. Tali pengaman memang                mengamankan tubuh agar tidak terempas kalau pegangan terlepas.                Namun ’’seni” panjat tebing adalah menyelesaikan masalah di mana                kita menempatkan tubuh dan mencengkeram pegangan serta memijakkan                kaki agar tidak terjatuh. Jika aliran gerak tubuh ini meliuk                lancar maka mereka yang di bawah akan melihatnya sebagai suatu                tarian vertikal yang seakan menentang gaya tarik bumi.<br />
Kalau mau mencoba panjat dinding, ada beberapa alat wajib yang                harus dipakai, yaitu figure of 8 (descender), harness, Gri-gri,                carabiner screw gate, carabiner gate, carabiner bent gate, runner                (dua carabiner gate dan bent gate yang disatukan dengan memakai                quickdraw sling), sepatu panjat, helm, chalk bag dan magnesium                karbonat – berfungsi untuk menjaga tangan terhindar dari serangan                keringat. Semua ini, bahkan sepatu panjat pun disediakan di arena                dinding panjat PI Mall.<br />
Bila melakukan pemanjatan di Pondok Indah Mall, semua alat itu                sudah tersedia. Cukup bayar sewa sebesar Rp 30.000, kita bisa                langsung mencoba jalur pemanjatan. Pada hari biasa, harga itu                untuk dua jam, sedang weekend menjadi satu jam saja.<br />
</span><strong><span style="font-size:x-small;">(SH/bayu dwi mardana)</span></strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=5&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/panjat-dinding-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ekspedisi Mc Kinley</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/ekspedisi-mc-kinley/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/ekspedisi-mc-kinley/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 13:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Pecinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sapala.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Keberangkatan Pungkas Tri Baruno yang tergabung dalam ekspedisi Tunas Indonesia. Mereka bergerak dari bumi Indonesia pada 12 Juni 2008 menuju Gunung Mc Kinley di Alaska dengan tujuan menumbuhkan cinta alam dan kasih sayang terhadap sesama. Seperti dikutip situs pramuka.or.id pada Rabu (9/7/2008), rencana pendakian ini sejatinya dilakukan menuju puncak tertinggi di Antartika, Gunung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=3&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; Keberangkatan Pungkas Tri Baruno yang tergabung dalam ekspedisi Tunas Indonesia. Mereka bergerak dari bumi Indonesia pada 12 Juni 2008 menuju Gunung Mc Kinley di Alaska dengan tujuan menumbuhkan cinta alam dan kasih sayang terhadap sesama.</p>
<p>Seperti dikutip situs pramuka.or.id pada Rabu (9/7/2008), rencana pendakian ini sejatinya dilakukan menuju puncak tertinggi di Antartika, Gunung Vinson Massif. Sebelumnya, mereka akan terlebih dahulu menancapkan merah putih di puncak tertinggi Amerika Utara, Gunung Mc Kinley di Alaska, AS.</p>
<p>&#8220;Tujuan khusus dari kegiatan ini untuk menunjukkan kepeloporan dan prestasi pemuda Indonesia dengan menancapkan dan mengibarkan bendera Merah Putih serta menjalin semangat persaudaraan dengan organisasi kepanduan negara-negara lain,&#8221; demikian pernyataan dalam situs Pramuka.</p>
<p>Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengikutsertakan 7 orang Pramuka Pandega dalam kegiatan pendakian Gunung Vinson Massif yang merupakan puncak tertinggi di lingkar Antartica.</p>
<p>Para anggota tim pun sebelumnya telah melaksanakan berbagai ekspedisi lintas alam, seperti Ekspedisi Khatulistiwa tahun 2000, mendaki Gunung Kilimanjaro 5.895 mdpl dan Gunung Kenya titik Lenana 4.985 mdpl, di Tanzania dan Kenya, Afrika dalam Ekspedisi Merah Putih pada 2001, mendaki Gunung Elbrus 5.642 mdpl, di Caucasus Russia dalam Ekspedisi Indonesia Gunung Elbrus pada 2002, Ekspedisi Bike Jakarta-Bali 2003.</p>
<p>Dijelaskan pula data mengenai Mc Kinley (Kutub Utara), Alaska, Amerika Serikat.</p>
<p>Rute         : West Buttress</p>
<p>Elevasi        : 20.320 kaki / 6.194 m</p>
<p>Kesulitan     : Moderate to severe 2C</p>
<p>Musim pendakian : Mei &#8211; Juli.</p>
<p>Selain itu terdapat pula catatan lengkap mengenai kilas Gunung Mc Kinley. Denali adalah nama asli Gunung Mc Kinley yang menurut bahasa Indian artinya &#8220;Yang tertinggi&#8221;. Terletak pada 63 derajat lintang Utara, 390 kilometer dari lingkaran Arktik (Kutub Utara). Pada 1980, daerah pegunungan sekitar Mc Kinley dijadikan Taman Nasional Denali yang menyediakan berbagai fasilitas akomodasi, komunikasi, transportasi dan juga tim SAR untuk keadaan darurat.</p>
<p>Selain itu suhu rata-rata di Mc Kinley berada pada ketinggian lebih dari 5.000 meter adalah -28 derajat Celcius dengan cuaca terang mencapai 21 jam setiap hari dari bulan Mei sampai Agustus. Saat ini di kawasan tersebut ada lebih dari 10 rute pendakian dengan rute terpanjang West Buttress. Cuaca disini cepat berubah dan dapat diantisipasi dengan membaca tanda Lenticular Caps pada puncak gunung.<strong>(ndr/fay)</strong></p>
<p>oleh : <span class="reporter"><strong>Indra Subagja</strong> &#8211; detikNews</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=3&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/ekspedisi-mc-kinley/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/hello-world/</link>
		<comments>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 13:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sapala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=1&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sapala.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sapala.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sapala.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sapala.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sapala.wordpress.com&amp;blog=4304001&amp;post=1&amp;subd=sapala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sapala.wordpress.com/2008/07/23/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf0f0307d796ae3c66e64a2d0baff9db?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sapala</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
